Gabriella, Wasit Putri Lampung Pertama di Liga Pro Futsal Indonesia

Bandarlampung (ISN) – Olahraga Futsal yang dipernalkan di Indonesia sekitar akhir tahun 90-an, kini telah berkembang pesat meski belum sepopuler ‘saudara tuanya’ sepakbola.

Kehadiran Futsal memang sempat menjadi pilihan lain dari para pemain sepakbola yang tidak mendapatkan panggung lagi lantaran kalah bersaing dengan teman seperjuangannya di tim, dan di Lampung juga menjadi cabang olahraga yang menyita banyak perhatian anak muda.

Futsal Indonesia berkembang seiring dengan dipertandingkannya cabang yang menginduk pada organisasi olahraga sepakbola, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) ini di Pekan Olahraga Nasional (PON) dan memutar kompetisi dengan kasta tertinggi bernama Liga Profesional (LigaPro yang sekarang sudah memasuki musim ke-14 tahun 2022 ini.

Adalah seorang wanita muda bernama Gabriella Ayu Anggraini S.Pt, M.M, yang biasa dipanggil Gaby, menjadi orang pertama dari Lampung yang dipanggil untuk turut memimpin beberapa pertandingan yang dilakukan di Liga Pro 2021-2022.
Usianya masih 20 tahun dia sudah dipercaya Federasi Futsal Indonesia (FFI) memimpin pertandingan di LigaPro Futsal pekan 8 di Jogjakarta dan pekan 9 di Semarang.

“Saya berterima kasih kepada FFI yang mempercayai untuk bertugas di even tertinggi di Indonesia ini,” katanya.
Ditanya pertandingan mana yang berkesan ketika dia memimpin, Gaby menjawab bahwa semua game di liga futsal profesional sangat berkesan.

Pada 26 dan 27 Februari lalu, Gaby bertugas di Jogjakarta dan Semarang untuk pertandingan lanjutan LigaPro sector putri.

“Di Jogja, saya memimpin pertandingan Putri Sumatera Selatan (PSS) vs Pusaka Angels yang berakhir 1-7 untuk kemenangan Pusaka Angel. Meski skor mencolok, tapi dalam permainan berlangsung sangat ketat.” Kata Gaby.

Lalu pada 27 February berpindah ke Semarang untuk memimpin partai papan atas Netic FC versus Pansa FC yang berakhir dengan skor 2-3.

“Pada pertandingan ini diperlukan ketelitian dan ketegasan dalam memimpin di lapangan, karena keduanya bermain dalam level yang lumayan bagus dan sangat ketat dalam permainan. Ini sangat memuaskan kami para wasit yang saat itu bertugas, semua berjalan lancar,” tambah sarjana peternakan Unila itu.

Sejak Kecil Dikenalkan Sepakbola Lalu siapa sebenarnya Gaby ini, sehingga bisa menjadi wasit level nasional futsal di Indonesia saat ini. Tentu ada latar belakang yang mendasarinya.  Gaby anak perempuan yang sejak kecil dinlai terlalu tomboy itu memang berada di lingkungan orang-orang sepakbola di Jl Pisang Gg Garuda V no 9/37 PasirGintung Tanjung karang Pusat Bandarlampung.

Ayahnya adalah pemain sepakbola yang tidak asing di Kota Bandarlampung, Haryadi Spd, yang pada masa mudanya memang dikenal sebagai pemain yang ulet dan tak kenal menyerah. Dan setelah tidak bermain sepakbola dia terjun di kepelatihan dengan menangani beberapa tim Kota Bandarlampung diantaranya Pahoman United dan PSBL Junior.

Gaby yang sejak kecil sangat sering ikut ayahnya, dalam masa kecilnya sudah bisa mengenal apa namanya passing, dribbling, dan beberapa Teknik dalam sepakbola. Meski tidak semahir anak lelaki, namun karena lingkungannya banyak anak lelaki, maka kadang dia ikut bermain bersama mereka.

“Yaa lingkungannya seperti itu, sehingga mendorong saya terus memainkan bola, karena senang.” Gaby yang saat ini sudah lulus S2 bidang manajemen itu.

Merambah dunia futsal memang secara tidak sengaja, karena pada saat itu di tahun-tahun 2010-an Futsal di Lampung masih sangat tinggi intensitas kegiatannya. Berbagai kejuaraan sering digelar dalam waktu yang berdekatan.

“Padahal saya dulu masih kuliah di Unila malah gak ikut klub futsal, tapi ikut UKM Bola Basket. Tapi pada tahun 2012, saat Unila mengadakan turnamen futsal termasuk untuk putri, kami tim basket ikut mendaftar di turnamen itu dan mengejutkan kami menjuarai di sektor putri mengalahkan tim-tim futsal ada.” Tambah Gaby.

Dari sinilah semakin dekat dengan futsal benar-benar dimulai, karena Gaby cs akhirnya direkrut oleh UKM Futsal menjadi tim Unila. Selesai kuliah S1 Pertanian pada 2014, tapi main futsal masih tetap jadi kegemarannya. Sayangnya iven futsal untuk putri sangat jarang sekali.

“Pada tahun 2016, dari teman saya diberitahu bahwa ada kursus wasit futsal. Waktu itu bulan April. Untuk basic atau dasar perwasitan futsal di Lampung yang instrukturnya Ahmad Suparna. Saya ikut. Dan ternyata lulus, dan sempat memberikan kesan baik dimata instruktur,” katanya.

Akhir tahun itu Gaby kembali ditawari untuk ikut level II di Jatinangor, Jawa Barat. “Nah Desember pak Ahmad menghubungi saya, untuk ikut di level II kursus wasit. Karena saya makin jatuh cita sama futsal, maka saya berangkat juga,” ujarnya.

Sepulang dari Jatinangor, Gaby ditugaskan untuk memimpin pertandingan di sebuah turnamen di Bandarlampung, Walikota Cup dan saat itu dia berusaha menerapkan ilmu perwasitan dalam turnamen yang dia pimpin. Terus berkembangnya ilmu dibidang perwasitan memang tidak lepas dari dukungan para seniornya.

“Saya berterima kasih kepada pak Eddy Samsu, pak Nanot dan Abah Jenni yang memberikan dukungan dan dorongan untuk maju di bidang ini. Termasuk pada saat 2017 saya Kembali diajak untuk kursus Wasit Level AFC 1 di Jatinangor lagi,” katanya.
Akhirnya Gaby lulus level AFC 1. Ini menjadi salah satu asset provinsi Lampung, dimana hanya ada satu-satunya wasit futsal wanita di provinsi ini.

“Untuk diperwasitan, saya berterima kasih kepada kak Tommy Indra dan senior lainnya yang dengan senang hati selalu membimbing saya dalam setiap iven. Bisa Kerjasama dengan baik dan selalu menjaga saya,” ujar Gaby.

Selain itu, Gaby sangat bersyukur di Lampung ada Reza Mahesa pemilik klub Giga FC sekaligus ketua AFP Provinsi Lampung. Di tangan Rea lah futsal di Lampung terus bergulir dan selalu memberikan kegiatan dan kesempatan pada tim-tim yang ada, akhirnya memberikan kesempatan pula kepada para wasit untuk memimpin pertandingan. (don)

Loading